Kata kata seorang guru ini begitu membekas. Ya, seringkali kita hanya mendengar tapi tidak mendengarkan. Atau bahkan kita hanya didengar tapi tidak didengarkan. Hanya berbeda akhiran -kan tapi dalam maknanya.
Jika kita hanya mendengar maka kita hanya membutuhkan fungsi telinga saja. Tapi untuk mendengarkan, bukan hanya fungsi telinga saja yang dibutuhkan. Kita membutuhkan fungsi hati untuk merasakan apa yang kita dengar dan juga fungsi akal untuk mengerti maksud yang kita dengar. Jika hanya mendengar biasanya banyak memunculkan salah paham. Maksud yang bercerita A sedangakan yang mendengar menangkapnya B. Tapi jika mendengarkan maka si pendengar bukan hanya saja mengerti maksud yang di ceritakan tapi perasaannya dapat menangkap rasa yang disampaikan.
Suatu hari ada sms dari seorang teman yang mengeluhkan hubungannya dengan suami.
" Saya bingung, maksudnya ngajak suami sharing .Ngajak ia ngobrol banyak dengan baik baik. Tapi kok jadi sering salah faham ya, disangkanya saya nuntut macam macam. Diajak ngomong salah ga diajak ngomong tambah salah" keluhnya.
Terlepas dari bagaimana cara sang istri berbicara atau tepatkah waktunya ia ber bicara dan lain lain,andai sang suami mau sedikit saja menunda aktifitas fisik dan fikirannya untuk sejenak mendengarkan mungkin sang istri tidak akan bingung. Memang benar, terkadang wanita untuk menyampaikan satu maksud saja ceritanya bisa kemana mana. Maksudnya ingin mendiskusikan tentang pendidikan anaknya, tapi bisa jadi ada keluhan tentang biaya pendidikan yang mahal, cerita tentang kenakalan anaknya, betapa capainya sang istri mengurusi anak anaknya,dsb. Tapi begitulah wanita. Ingin selalu membicarakan apa yang ada dihati dan fikirannya.
Disisi lain, bagi suami biasanya mereka lebih senang memikirkan apa yang akan dilakukan tanpa banyak bicara jika dirasa tidak perlu. Hingga terkadang aktifitas mendengarkan bukanlah hal yang mudah dan menyenangkan bagi suami. Apalagi jika isinya sesuatu yang dianggap tidak penting dan penuh dengan keluhan serta tuntutan. Straight to the point, begitulah pria. Tapi sayangnya para istri bukan penganut ilmu kebathinan yang selalu bisa membaca fikiran suami.
Inilah hebatnya dunia pernikahan. Menikahkan dua jenis manusia yang benar-benar berbeda untuk bersinergi menjadi satu demi kehidupan baru yang sakinah mawaddah warahmah. Dalam pernikahan, kita 'dipaksa' untuk saling melengkapi. Tapi bagaimana bisa melengkapi jika tidak saling memahami. Dan satu satunya alat untuk saling memahami adalah mendengarkan.
Terkadang untuk menu masakan saja sang istri bertanya pada suami, mau masak apa hari ini. Maksud hati agar sajiannya nanti sesuai keinginan suami. Tapi pertanyaan ini bisa saja menganggu bagi suami. Hanya sekedar masak saja pakai bertanya. Seharusnya istri tahu apa yang disukai dan tidak disukai suami, fikir sang suami.
Andai suami mau mendengarkan sejenak saja pertanyaan istrinya, ia akan mampu menangkap maksud dan rasa yang ada dalam pertanyaannya itu. Suami akan mengerti, walau hanya urusan memasak bukanlah hal mudah bagi sang istri. Setiap hari istri harus memikirkan modifikasi menu makanan yang akan dimasak agar keluarganya tidak bosan. Bukan hanya sekedar memasak tapi juga memikirkan kandungan gizi didalamnya agar kebutuhan nutrisi keluarganya terpenuhi. Belum lagi ia harus menyesuaikan dengan uang belanja yang ada dan tentunya bukan hanya untuk belanja kebutuhan masak saja. Sungguh ini bukan pekerjaan yang mudah bagi istri. Apalagi kalau suaminya termasuk tipe komentator makanan. Pasti lebih membingungkan.
Inilah hebatnya dunia pernikahan. Menikahkan dua jenis manusia yang benar-benar berbeda untuk bersinergi menjadi satu demi kehidupan baru yang sakinah mawaddah warahmah. Dalam pernikahan, kita 'dipaksa' untuk saling melengkapi. Tapi bagaimana bisa melengkapi jika tidak saling memahami. Dan satu satunya alat untuk saling memahami adalah mendengarkan.
Terkadang untuk menu masakan saja sang istri bertanya pada suami, mau masak apa hari ini. Maksud hati agar sajiannya nanti sesuai keinginan suami. Tapi pertanyaan ini bisa saja menganggu bagi suami. Hanya sekedar masak saja pakai bertanya. Seharusnya istri tahu apa yang disukai dan tidak disukai suami, fikir sang suami.
Andai suami mau mendengarkan sejenak saja pertanyaan istrinya, ia akan mampu menangkap maksud dan rasa yang ada dalam pertanyaannya itu. Suami akan mengerti, walau hanya urusan memasak bukanlah hal mudah bagi sang istri. Setiap hari istri harus memikirkan modifikasi menu makanan yang akan dimasak agar keluarganya tidak bosan. Bukan hanya sekedar memasak tapi juga memikirkan kandungan gizi didalamnya agar kebutuhan nutrisi keluarganya terpenuhi. Belum lagi ia harus menyesuaikan dengan uang belanja yang ada dan tentunya bukan hanya untuk belanja kebutuhan masak saja. Sungguh ini bukan pekerjaan yang mudah bagi istri. Apalagi kalau suaminya termasuk tipe komentator makanan. Pasti lebih membingungkan.
Suami harusnya tahu bahwa dibalik pertanyaan itu, istri sedang meminta bantuan untuk kesulitan yang dia rasakan hari itu. Suami harusnya merasakan bahwa menjadi istri dengan memikirkan semua urusan dirumah meski terlihat kecil tapi se ' abreg' sangatlah melelahkan dan menguras fikiran. Maka sang suami akan berbaik hati untuk membantu berfikir satu jenis masakan sehat yang ia suka dan sesuai dengan uang belanja. Sebutkan saja apa yang terlintas dalam benak, masalah pun selesai. Suami tidak perlu banyak omong. Istripun senang karena yakin masakannya hari ini pasti disukai suaminya.
Ini hanya masalah kecil dalam hiruk pikuk rumah tangga. Mendengarkan akan jadi solusi. Apalagi untuk masalah yang besar. Pasti mendengarkan akan lebih-lebih penting.
Demonstrasi untuk menyuarakan tuntuntan rakyat sudah tak terhitung jumlahnya. Tapi buktinya pemerintah hanya mendengar tidak mendengarkan. Terbukti, mereka sama sekali tidak dapat menangkap maksud yang disampaikan rakyat hingga tidak bisa merasakan apa yang dirasakan rakyat. Rakyat menderita, rakyat ingin perubahan yang jelas terasa. Penguasa malah sibuk memperkaya diri sendiri. Bikin program yang menghabiskan uang rakyat tapi sangat tidak menyentuh rakyat programnya. Rakyat hanya dijadikan objek dagangan. Kasian rakyat, mereka tidak didengarkan oleh penguasa yang tidak mau mendengarkan mereka.
Ini hanya masalah kecil dalam hiruk pikuk rumah tangga. Mendengarkan akan jadi solusi. Apalagi untuk masalah yang besar. Pasti mendengarkan akan lebih-lebih penting.
Demonstrasi untuk menyuarakan tuntuntan rakyat sudah tak terhitung jumlahnya. Tapi buktinya pemerintah hanya mendengar tidak mendengarkan. Terbukti, mereka sama sekali tidak dapat menangkap maksud yang disampaikan rakyat hingga tidak bisa merasakan apa yang dirasakan rakyat. Rakyat menderita, rakyat ingin perubahan yang jelas terasa. Penguasa malah sibuk memperkaya diri sendiri. Bikin program yang menghabiskan uang rakyat tapi sangat tidak menyentuh rakyat programnya. Rakyat hanya dijadikan objek dagangan. Kasian rakyat, mereka tidak didengarkan oleh penguasa yang tidak mau mendengarkan mereka.
Mendengarkan akan membuat kita mengerti bahwa dibalik amarah ada keinginan yang ingin dimengerti. Mendengarkan akan membuat kita mengerti bahwa dibalik keluhan ada permintaan yang ingin dipenuhi. Mendengarkan membuat kita mengerti bahwa dibalik tuntutan ada harapan yang ingin diraih. Mendengarkan pula yang akan membuat kita bertindak sesuai keinginan, permintaan dan harapan.
Andai mendengarkan itu mudah.... hidup ini pasti lebih mudah dan indah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar